Monday, September 18, 2017

Apakah Anda Hafal Nama Bulan Di Kalender Islam?

Apakah Anda Hafal Nama Bulan Di Kalender Islam?

Apakah Anda Hafal Nama Bulan Di Kalender Islam?
Classic Calendar
Hafalkah anda bulan-bulan Islam? - Sebutkan nama-nama bulan dalam kalender Islam, nama Bulan Hijriyah dalam bahasa Arab. Bandingkan jika anda diminta menyebutkan kalendar bulan masehi, Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, July, Agustus, September, Oktober, November dan Desember. Sangat mudah diluar kepala. Mengapa demikian?

Sumber Facebook : Dedi Kurniawan - Akhir-akhir ini ummat Islam digiring untuk melupakan tradisi-tradisi yang baik yang sesuai syariat dan diajarkan oleh kakek moyang kita dahulu. Dengan alasan Jargon "Ketinggalan Zaman", "Kuno", "Norak", dan bahkan "Umpatan BID'AH" yang terlontar dari mulut saudara kita sendiri.

Sedikit demi sedikit bergeser pula akhlaq dan moral sehingga mengikuti tradisi kaum kafir. Muharrom sebagai tonggak awal penanggalan dalam kalender Hijriyyah sudah banyak dilupakan oleh sebagian kita generasi Kaum Muslimin akibat dekadensi moral yang diusung oleh pemahaman liberalis, komunis, freemansory, illuination dan pemujaan syahwat lainnya.

Bahkan tak jarang sebagian kita tidak hafal dan mengenal Bulan Hijriyyah sebagai penanggalan dalam kalender Islam. Yang kita tahu hanya menyambut tahun baru Masehi di akhir tanggal 31 Desember untuk menyambut Tahun Baru Masehi di Bulan Januari dengan cara meniup terompet, hitung mundur, hura-hura dan pesta pora lainnya dengan beragam kemaksiatan yang pada akhirnya kita semua terjerembab dalam kubangan lumpur dosa karrna mengikuti tradisi kaum kafir.

Untuk itu, beberapa hari lagi, kita memasuki TAHUN BARU ISLAM 1 MUHARROM 1439 H, mari jadikan mementum tahun baru hijriyyah dengan memperbanyak do'a, dzikir, sholawat, maulidan dan aneka tradisi yang membakar semangat dalam lingkup Ukhuwah Islamiyyah dan Intropeksi diri (Muhasabah) dan syi'ar keislaman.

Akhirul Kalam mari kita selalu mempererat tali silaturrahim dan ukhuwwah, menjaga stabilitas keimanan diri kita dan memperkokoh benteng keimanan ditengah bobroknya moral sebagian kaum muda Islam.

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYYAH 1439 H.SEMOGA ALLAH SWT. MELINDUNGI AQIDAH DAN KEIMANAN KITA DARI FAHAM DI LUAR AHLUSSUNAH WAL JAMA'AH

Berikut adalah daftar nama-nama bulan Hijriyah :
  1. Muharram
  2. Shafar
  3. Rabi'ul Awal
  4. Rabi'ul Akhir
  5. Jumadil Awal
  6. Jumadil Akhir
  7. Rajab
  8. Sya'ban
  9. Ramadhan
  10. Syawal
  11. Dzulqa'idah
  12. Dzulhijjah

Thursday, September 14, 2017

Kembali Kepada Sunnah dan Jauhi Bid'ah

Kembali Kepada Sunnah dan Jauhi Bid'ah

Maraknya Slogan "Kembali Kepada Sunnah dan Jauhi Bid'ah" menyeruak menyerukan umat muslimin sejati kepada yang Haq dan meninggalkan kebatilan. 100 Persen orang Islam menyetujui dan membenarkan suatu hal yang menyangkut keislaman seseorang itu. Sabda Rasulullah S.A.W. :

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِالرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا
عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌوَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Kamu semua harus berpegang teguh pada sunnahku (setelah Al-Qur’an) dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk Allah sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru (dalam agama), kerana setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” (H.R. Abu Daud dan Tirmizi

Bagi Muslimin sejati slogan kembali kepada sunnah benar sekali dan tidak ada yang meragukannya. Bahkan jika kita tidak mengikuti sunnah, kita bisa menjadi orang yang sesat dan hilang pegangan bahkan tidak selamat didunia dan akhirat. Namun pertanyaannya sekarang adalah Apa itu Sunnah? dan Apa itu Bid'ah?. Umat Islam yang baru belajar tentang agama adalah yang paling cepat menerima makna slogan "Kembali kepada sunnah" ini.

Menyikapi seruan kembali kepada sunnah dan jauhi bid'ah ini perlu adanya pemahaman yeng lebih. Kata "Kembali", seolah-olah menyatakan bahwa umat Islam khususnya di Indonesia ini telah lama "Menjauh" dari Sunnah. Berarti Umat Islam selama ini dari kurun ratusan tahun dalam mengerjakan amalan atau menjalankan syariat Islam lepas dari tuntunan Syari'at?.

Tidak ada satupun golongan dari kurun ke kurun waktu yang menyerukan slogan ini setelah datang satu golongan yang mengatas-namakan Ahlussunnah Wal Jamaah, namun dalam pedoman syariat jauh dari ulama ahlussunnah. ( Baca : Siapa Ahlussunnah Wal Jamaah ). Sayidina Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwasanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda:

”Pada akhir zaman nanti akn muncul kaum berusia muda (ahdasul asnan) berpikiran pendek (sufahaul ahlam), mereka memperkatakan sebaik-baik ucapan kebaikan, mereka membaca Al-Quran tetapi bacaan mereka itu tidak melebihi (melampui) kerongkongan mereka, mereka memecah agama sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya maka dimanapun kamu menjumpainya maka perangilah mereka sebab dalam memerangi mereka terdapat pahala disisi Allah pada hari kiamat kelak. ” (Sahih Bukhari/6930, Sahih Muslim/2462, Sunan Abu Daud/4767, Sunan Nasai/4107 Sunan Ibnu Majah/168, Sunan Ahmad/616 ).

Menuntut Ilmu di Internet

Bolehkah menuntut ilmu di internet, seperti di Facebook, Youtube, Twitter atau blog?. Seorang penuntut ilmu baiknya mencari guru yang sanad keilmuannya sampai kepada Rasulullah S.A.W. Ilmu dan kitabnya pun harus bersanad. Sanad inilah kunci terbaik dalam menuntut ilmu, yang melepaskan diri dari keragu-raguan serta terhindar dari faham yang sesat.

Lalu bagaimana menyikapi tulisan-tulisan mengenai ilmu agama di internet seperti tulisan yang sedang anda baca saat ini?. Bukankah menuntut ilmu itu amalan ibadah (Bid'ah Hasanah)? - Mintalah petunjuk Allah SWT. agar diberi hidayah dalam memahami ilmu yang sedang dikaji. Lihatlah sumber tulisan dan pengarang, jikalau ada yang tidak dipahami alangkah baiknya bertanya kepada yang ahlinya.

Kembali Kepada Sunnah dan Jauhi Bid'ah
Berikut ini AQIDAH ISLAM merekomendasikan seorang ulama dan penceramah yang akhir-akhir ini populer. Beliau adalah seorang Ahli hadits, sesuai kajian judul artikel yang anda baca "Kembali Kepada Sunnah dan Jauhi Bid'ah" ini.

Jika anda akan mengkaji ilmu fiqih dengan dalil-dalil yang lengkap, tidak sepotong-sepotong sebagaimana anda ingin kembali kepada sunnah. Tontonlah video beliau di youtube, save / simpan sebanyak-banyaknya atau baca tulisan-tulisan di blog beliau. Beliau adalah USTAD ABDUL SOMAD Lc.MA seorang kalahiran Riau Sumatera.

Berikut Link Ust. Abdul Somad Lc.MA :

  • Blog Ust. Abdul Somad Lc.MA : http://somadmorocco.blogspot.co.id/
  • Facebook Ust. Abdul Somad Lc.MA : https://www.facebook.com/UstadzAbdulSomad/
  • Youtube - silahkan ketik kata kunci : Ceramah Ust. Abdul Somad Lc.MA.

Mengapa penulis menyarankan Ustadz Abdul Somad Lc.MA., dikarenakan beliaulah yang mungkin paling cocok bagi penuntut ilmu dizaman seperti ini setelah Alm. KH. Zainuddin MZ tiada. Menurut penulis, Beliau adalah ulama yang sangat cerdas, berwawasan, sanad keilmuan yang tak diragukan lagi. Lulusan ilmu hadits kairo Mesir, berakhlak dan bersahaja. Dan yang terpenting adalah penyampaian ilmu yang berdasarkan dalil lengkap beserta sanad-sanadnya yang tak dijumpai oleh orang yang juga bergelar "Ustadz" lainnya. - Kembali Kepada Sunnah dan Jauhi Bid'ah. Wallahu A'lam Bissowab.

Thursday, September 7, 2017

Hukum Makmum Shalat Dilantai Atas dan Imam Di Bawah

Hukum Makmum Shalat Dilantai Atas dan Imam Di Bawah

hukum-makmum-shalat-dilantai-atas-dan-imam-di-bawah
Hukum Makmum Shalat Dilantai Atas dan Imam Di Bawah
Hukum Makmum Shalat Dilantai Atas dan Imam Di Bawah - Apakah barisan makmum shalat yang ada dilantai dua atau tiga sama dengan yang dibawah, yakni barisan pertama yang lebih utama? Penjelasan : Shalat makmum yang berada dilantai atas sementara imam berada dilantai bawah dihukumi makruh, kecuali tidak menemukan lagi dilantai bawah karena penuh.

Urutan shaf yang berada dilantai atas sama dengan yang berada dilantai bawah. Namun Shaf kedua yang sama posisinya sejajar dengan imam dilantai bawah adalah lebih utama daripada shaf pertama yang berada dilantai atas. - Hukum Makmum Shalat Dilantai Atas dan Imam Di Bawah (Lihat: Fatwa Romi juz 1 hal.248, Hawasyi Madaniyah juz 2 hal.27).

Sumber : CN Istifta'

Sunday, September 3, 2017

Hukum Adzan Perempuan dan Syarat Muadzin

Hukum Adzan Perempuan dan Syarat Muadzin

hukum-adzan-perempuan-dan-syarat-muadzin
Hukum Adzan Perempuan dan Syarat Muadzin
Hukum Adzan Perempuan - Apa hukum seorang wanita (Baligh) adzan dan bagaimana hukum menjawab adzan tersebut?. Menurut pendapat yang kuat, hukum adzan adalah sunnah. Namun dalam permasalahan yang adzan adalah perempuan hendaknya kita mengetahui syarat-syarat menjadi muadzin terlebih dahulu.

Syarat orang yang mengumandangkan adzan (Muadzin) yaitu :
  1. Islam - Non Muslim tidak sah menjadi Muadzin
  2. Tamyiz - Anak kecil yang belum Tamyiz (berumur dibawah 7 tahun) atau orang yang gila, tidak sah menjadi muadzin
  3. Laki-laki - Perempuan tidak sah menjadi muadzin

Perbedaan Adzan dan Iqomah/Qomat - Berbeda halnya dengan Iqamah/Qomat yang disunnahkan bagi laki-laki dan perempuan. Perbedaannya, dalam adzan disunnahkan dengan mengeraskan suara sedangkan Qomat dilakukan dengan suara yang tidak keras.

Adzan ditujukan untuk memberi tahu masuknya waktu shalat jepada masyarakat, sementara qomat dimaksudkan mengajak kepada jamaah yang hadir untuk melaksanakan shalat.

Oleh sebab itu perempuan tidak boleh menjadi Muadzin, sebab dikhawatirkan suaranya dapat mengundang fitnah bagi yang mendengarkannya.

Disamping itu disunnahkan bagi orang lain untuk melihat kepada muadzin, padahal wajah perempuan termasuk  aurat yang wajib ditutup dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. (rujukan: Tuhyatul Muhtaj, juz 1, hal.467) - Hukum Adzan Perempuan dan Syarat Muadzin

Friday, September 1, 2017

Hukum Memelihara Jenggot Dan Hukum Isbal (Cingkrang)

Hukum Memelihara Jenggot Dan Hukum Isbal (Cingkrang)

hukum-memelihara-jenggot-dan-hukum-celana-isbal-cingkrang
Hukum Memelihara Jenggot

Hukum Memelihara Jenggot

Bagaimanakah sesungguhnya hukum memelihara jenggot bagi lelaki Muslim? Para ulama Fiqih menyatakan bahwa hukum memelihara jenggot hukumnya adalah sunnah sesuai hadits yang disabdakan Baginda Nabi SAW :

أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وأَعفوا اللِّحَى
"Singkirkan  kumis dan sempumakan jenggot." ( HR Muslim).

Isu jenggot sempat menyeruak beberapa waktu lalu dan menjadi bahan perbincangan lumayan panas di  media sosial. Jaringan Islam Liberal yang mencoba bermetamorfosis menjadi Islam Nusantara tiba-tiba dengan gencar menista jenggot.

Mereka berkoar bahwa jenggot adalah tanda kedangkalan otak seseorang. Menurut mereka, jenggot merupakan identitas orang Arab dan bukan merupakan ajaran Islam yang perlu diamalkan. Sejatinya mereka berpendapat demikian untuk menyindir orang-orang penganut aliran faham Wahabi yang rata-rata memelihara jenggot panjang.

Namun sindiran mereka itu agaknya salah alamat dan perlu diluruskan. Memelihara jenggot merupakan sunnah yang mesti dihidupkan di tengah kaum Muslimin karena Baginda Nabi SAW melakukannya. Demikian pula Abubakar as-sihiddiq RA, Umar bin Al-Khattab RA, Usman bin Affan RA, Ali bin Abi Thalib RA dan para sahabat lainnya.

Para ulama pakar Hadits, pakar Tafsir, ahli Fiqih dan imam-imam terdahulu juga setia memelihara jenggot sebagai bentuk ittiba' kepada Baginda Nabi SAW. Jadi, jenggot boleh dibilang merupakan identitas sejati pria Muslim. Baginda Nabi SAW menganjurkan laki-laki Muslim untuk memelihara jenggot agar tidak menjadi amrod (laki-laki yang tidak memiliki kumis dan jenggot).

Keberadaan lelaki amrod sangat mencemaskan lantaran bisa memicu gairah sesama jenis dikalangan kaum Adam. Tertariknya kaum lelaki kepada sesama jenis seringkali dipicu oleh para lelaki amrod . Oleh karena itu, para lelaki yang berjenggot hendaknya tidak mencukur jenggotnya sampai bersih. Peliharalah jenggot meski hanya sedikit guna menyempurnakan karakter kelaki­ lakiannya.

Dalam memelihara jenggot, baiknya lelaki berniat meneladani Baginda Nabi SAW agar pahala sunnah terus mengalir kepada dirinya. Jenggot harus dirapikan setiap saat agar tidak berantakan dan terlihat berwibawa.

Sementara itu lelaki yang ditakdirkan tidak berjenggot tidak usah memaksakan diri untuk berjenggot. Ia tidak perlu memakai jenggot palsu agar terlihat "nyunnah.' Jangan sampai pula lelaki yang cuma punya jenggot sehelai dipelihara sampai panjang sehingga terlihat sangat ganjil. Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan.

Sebagai kaum Muslimin kita harus menjaga keindahan diri kita sebagai  bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Jenggot bukan tradisi atau budaya Arab, tapi ajaran sunnah Nabi. Barangsiapa memelihara jenggot demi ittiba ' kepada Baginda Nabi SAW, maka ia akan mendapatkan pahala sunnah. Sementara mereka yang memilih tidak memelihara jenggot tidak akan mendapatkan dosa.

Demikian kaidah shahih yang berlaku untuk jenggot. Kelompok yang menghujat kesunnahan memelihara jenggot tentu tidak memiliki dasar yang jelas. Hadits­-hadits menerangkan dengan gamblang bahwa Baginda Nabi SAW memelihara jenggot, demikian pula para sahabat. Para ulama Syafiiah menegaskan kesunnahan jenggot, bahkan memakruhkan mencukur jenggot sampai bersih. Malah ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa mencukur jenggot haram.

Jurus pamungkas kelompok Islam Liberal  untuk menyerang syariat Islam adalah mengkaitkannya dengan  adat Arab. Sebelumnya mereka berkoar-koar di media bahwa surban, jubah dan jilbab adalah budaya Arab yang tidak perlu dipraktikkan di Nusantara. Bahkan mereka mengatakan jubah bukan pakaian Baginda Nabi SAW, melainkan pakaian Abu Jahal.

Logika yang mereka gunakan untuk merusak syariat Islam jelas sangat dangkal. Sayangnya, kaum awam yang tidak memiliki bekal ilmu yang cukup kerap termakan oleh logika-logika yang mereka utarakan. Seperti halnya jenggot, maka surban, jubah dan jilbab merupakan bagian dari syariat Islam.

Anehnya, orang-orang Liberal tidak pernah mempermasalahkan gaya hidup pemuda muslim yang meniru artis-artis Barat. ManakaIa menyaksikan lelaki Muslim memelihara jenggot, mereka bilang itu adalah budaya Arab yang konyol. Tetapi bila melihat anak-anak muda mempunyai tato disekujur tubuh, mereka sama kali tidak berkomentar. Bila melihat pemuda Muslim memakai jubah dan surban, dengan nyinyir mereka mengatakan itu gaya hidup Arab Jahiliyah. Sebaliknya, tatkala menyaksikan pemuda Muslim memakai kaos dan celana sobek­sobek lengkap dengan anting-anting di telinga mereka sama sekali acuh tak acuh. Bahkan mereka terkesan merestui  dengan alasan mengikuti perkembangan zaman.

Sebenarnya tidak masalah jika mereka tidak suka memelihara jenggot karena itu memang bukan kewajiban. Tapi tidak usahlah mereka menista kesunnahan yang diteladankan Baginda Nabi SAW itu. Apakah mereka menilai para ulama terdahulu tidak arif dan pandai dengan memelihara jenggot?

Jangan sampai rasa benci  kepada  aliran wahabi  yang identik dengan jenggot membuat mereka merendahkan jenggot. Kalau hendak mengkritisi Wahabi, lakukanlah dengan cara-cara yang elegan. Kesalahan Wahabi jelas-­jelas terletak pada aqidah mereka yang sesat, tidak ada kaitannya sama sekali dengan jenggot.

Sementara itu,bagi kaum Muslimin yang memiliki jenggot hendaknya jangan sampai merasa diri paling "nyunnah" sehingga menganggap kelompok lain meninggalkan Sunnah. Memelihara jenggot adalah kesunnahan, sementara menjaga ukhuwah Islamiyah adalah kewajiban. Apa artinya jenggot panjang apabila lisan kita gemar mengkafirkan kelompok lain, bahkan dengan mudahnya membunuh saudara sesama Muslim?

Nyatanya seperti itulah sikap orang-orang yang menganut faham Wahabi. Dengan bermodalkan jenggot yang lebat, mereka merasa lebih superior dari kaum Muslimin yang lain, lalu menghabisi kelompok yang berseberangan dengan mereka.

hukum-memelihara-jenggot-dan-hukum-celana-isbal-cingkrang
Hukum Isbal (Cingkrang)

Hukum Celana Isbal (Cingkrang)

Isu yang tak kalah panasnya adalah praktik cingkrang atau memakai celana di atas mata kakio Praktik ini merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah sebagai berikut :

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ
"Sarung (celana) yang di bawah mata kaki akan ditempatkan di neraka".

Sebagian besar ulama mengharamkan mengenakan pakaian sampai dibawah mata kaki (isbal) jika didasari sikap lil khulayah atau untuk kesombongan. Apabila isbal tidak disertai niat sombong,maka hukumnya tidak haram tetapi makruh.

Demikianlah pendapat jumhur ulama dari mazhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiyah dan Hanabilah. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Taimiyah, as-Shan' ani, dan as Syaukani. Keharaman isbal disertai sikap sombong ini juga didasarkan pada hadits riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Umar yang mengungkapkan bahwa Baginda Rasulullah SAW pernah bersabda :

لا يَنْظُرُ الله إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ
"Allah tidak akan memandang orang yang menjulurkan pakaiannya dengan penuh kesombongan" 

Dalam riwayat lain Baginda Rasul SAW bersabda:

ازرةالمؤمنين الى عضلة ساقه ثم الى نسف ساقه , ثم الى كعبه وما تحت الكعبين من  الازار ففي النار
"Sarung seorang Mukmin itu sampai otot betis, lalu sampai  pertengahan betis, lalu sampai mata kaki Ada pun yang di bawah mata kaki itu berada di neraka"(HR Nasai).

Dalam hadits yang berasal dari Abi Said al Khudri, Baginda Nabi bersabda:"Sarung seorang Mukmin itu sampai pertengahan betis dan tidak ada dosa atau tidak masalah dengan apa yang ada di antaranya dan diantara kedua mata kaki. Adapun yang berada di bawah semua itu, maka berada di neraka. Siapa yang menjulurkan sarungnya karena sombong, maka Allah tidak akan  melihat kepadanya di Hari Kiamat." (HR Abu Dawud).

Dalam kitab adab Syariyah karya Ibnu Muflih juz 3 hal 493 tertulis bahwa pengarang kitab muhith dari kalangan ulama madzhab Hanafi meriwayatkan, sesungguhnya Imam Abu Hanifah RA pernah memakai selendang mahal yang harganya 400 dinar dan ia menjulurkannya ke tanah. Kemudian beliau ditanya, "Bukankah kita dilarang melakukan ini?" Maka beliau menjawab, "Larangan itu hanya bagi orang-orang sombong dan kami bukan termasuk diantaranya".

Dalam Hadits riwayat Ibnu Umar, Baginda Nabi SAW bersabda:"Siapa yang menyeret bajunya ke bawah karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya di Hari Kiamat". Abubakar as ­Shiddiq RA berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya sarungku selalu terjulur, kecuali jika aku perhatikan betul-betul." Baginda Nabi SAW berkata kepadanya, "Sesungguhnya engkau bukan orang yang melakukannya karena sombong". (HR Bukhari).

Hukum kebolehan dalam hadits ini tidak hanya dikhususkan kepada Abubakar RA, karena  Baginda Nabi SAW telah menjelaskan alasannya bahwa beliau tidak melakukannya karena sombong. Sejumlah riwayat atsar menjelaskan bahwa sebagian salaf melakukan isbal tanpa sombong. Dalam mushanaf Abi Syaibah diriwayatkan dari Sahabat Ibnu Masud dengan sanad yang jayid bahwa Ibnu Masud menjulurkan sarungnya.

Ketika ditanya soal itu, beliau menjawab:"Aku memiliki dua betis yang kurus."(Ibn Abu Syaibah). Abi Ishaq mengatakan,"Aku menyaksikan Ibnu Abbas di hari-hari Mina dalam keadaan rambutnya panjang, memakai sarung yang agak isbal dan memakai selendang kuning." (HR Thabrani. Al-Haitsami mengatakan sanad riwayatnya adalah hasan).

Ibnu Abi Syaibah, Abu Nuaim dan Ibnu Saad dalam Thabaqatnya membawakan riwayat dari Amr bin Muhajir yang mengatakan,"Gamis Umar bin Abdul Aziz sampai di antara mata kaki dan tali sandalnya".

Demikianlah hukum isbal (Celana Cingkrang) yang sebenarnya. Para ulama sepakat mengharamkan isbal apabila disertai sikap sombong. Apabila tidak disertai sikap sombong, maka isbal hukumnya tidak haram tetapi makruh.

Oleh karena itu, tidak usah memaksa setiap Muslim untuk memakai celana atau sarung cingkrang, apalagi sampai mensyirikkan kaum Muslimin yang melakukan isbal sebagaimana yang dilakukan orang-orang Wahabi. Mereka tidak sadar bahwasanya dengan menvonis sesat dan syirik kepada kaum Muslimin yang isbal, maka mereka bersikap sombong dan itulah dosa besar yang sama  sekali tidak pernah mereka sadari.

Kelompok yang tidak senang kepada praktik cingkrang tidak usah mencela orang-orang yang memakai celana cingkrang. Biarlah mereka menempuh manhaj mereka sepanjang tidak menyalahi ajaran Baginda Nabi SAW.

Alangkah indahnya Islam apabila masing­ masing umatnya saling menghormati, menghargai dan tidak saling mencemooh. Sesungguhnya perpecahan umat Islam dan perang saudara yang terjadi di tengah umat Islam adalah karena sikap sombong, fanatisme kelompok dan rapuhnya ukhuwah Islamiyah. Akhir tulisan, marilah kita simak video mengenai masalah Hukum Memelihara Jenggot Dan Hukum Isbal (Cingkrang) oleh Al-Ustadz Abdul Somad di bawah ini.


Sumber : cahayanabawiy.com
Dalil Bantahan Orang Tua Nabi Masuk Neraka

Dalil Bantahan Orang Tua Nabi Masuk Neraka

dalil-bantahan-orang-tua-nabi-masuk-neraka
Makam Ibunda Nabi SAW Siti Aminah

Penjelasan Tentang Kedua Orang Tua Rasulullah SAW

Akhir-akhir ini ada kelompok yang mengaku sebagai muslim yang berpegang teguh kepada sunnah dan Al-quran. "Mereka menyatakan bahwa kedua orang tua Nabi Muhammad SAW masuk Neraka". Manakah yang benar, orang tua Nabi wafat dalam keadaan islam (tauhid) atau menyembah berhala?

Apakah orang tua Nabi Muhammad masuk Neraka? - Al-Qodli Abu Bakar bin Al-A'Robi pernah ditanya tentang orang yang menyatakan bahwa orang tua dan nenek-moyang Rasulullah SAW masuk neraka (karena musyrik). Beliau menjawab sebagai berikut : "Sesungguhnya orang yang berkata demikian itu dilaknat oleh Allah swt, karena Allah swt berfirman":

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا

"Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, niscaya mereka dikutuk Allah di dunia dan akhirat dan disediakanNya untuk mereka siksa yang menghinakan". (QS:Al-Ahzab:57).

Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi Rasulullah SAW selain menyatakan bahwa orang tua beliau masuk neraka. Imam AI-Suhaili berkata: "Kita tidak boleh berkata yang demikian itu (masuk neraka karena musyrik) pada kedua orang tua Rasulullah SAW, karena Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah kalian menyakiti orang yang masih hidup dengan mencaci yang sudah meninggal".

Dalil Bantahan Orang Tua Nabi Masuk Neraka

Ada 3 alasan mengapa kedua orang tua Rasulullah SAW tidak termasuk ahli neraka sebagaimana yang dituduhkan sebagian kalangan, yaitu:

  1. Masa Fatrah - Seperti dimaklumi, kedua orang tua Rasululah SAW hidup pada masa fatroh adalah zaman dimana tidak ada utusan Allah (Rasul) yang menyebarkan kebenaran dan mengajak manusia kepada jalan yang benar. Selisih waktu antara Nabi lsa AS dengan Rasulullah SAW adalah 600 tahun. Sayyid Abdullah, ayah Rasululah SAW, wafat pada usia delapan belas tahun saat Rasulullah SAW masih berada dalam kandungan ibunya. Sementara Sayyidah Aminah,ibunda Rasulullah SAW, wafat pada usia 20 tahun saat usia Rasullullah SAW 6 tahun.

    Pada masa itu orang-orang yang mengerti kitab- kitab nabi terdahulu tersebar di negara-negara Syam, bukan di Arab, karena nabi-nabi terdahulu tidak diutus untuk bangsa Arab. Dengan demikian, jika kedua orang tua Rasulullah tidak bersyahadat dan beriman atas kerasulan Muhammad SAW, tentu hal itu dapat dimaklumi karena mereka wafat pada saat Nabi Muhammad SAW belum diutus menjadi Rasul. Allah SWT berfirman:

    وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

    "Dan Kami tiada menyiksa (suatu kaum) sehingga Kami utus seorang Rasul (kepadanya)."(QS.• Al-lsro': 15).

    Tidak ada petunjuk kuat yang menegaskan bahwa kedua orang tua dan kakek Rasulullah SAW sampai Nabi Adam AS dari golongan musyrikin. Bahkan sebaliknya, mereka adalah golongan kaum yang meng-esa-kan Allah SWT dan tidak menyekutukan ­ Nya seperti halnya kaum jahiliyah Arab. Allah SWT berfirman:
    الَّذِي يَػرَاؾَ حِينَ تَػقُو . وَتَػقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

    "Yang melihatmu ketika engkau berdiri ( sembahyang) dan ketika engkau bolak-balik , dalam orang-orang yang sujud (sembahyang)."(QS:Asy­ Syu' araa':218-219).

    Menurut para ulama ahli Tafsir, ayat ini menegaskan bahwa Rasulullah SAW dilahirkan dari orang-orang yang tidak pernah menyekutukan Allah SAW. Rasulullah SAW bersabda: "Secara terus menerus aku dipindahkan daribeberapa tulang iga yang suci pada rahim yang suci ."Allah SWT berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

    " Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis". (QS:At-Taubah:28).

    Dengan demikian, kedua orang tua Rasulullah SAW sampai generasi di atas bukan tergolong kaum yang najis, yakni yang menyekutukan Allah SWT.

  2. Do'a Nabi Ibrahim - Seperti dijelaskan para ahli sejarah bahwa Rasulullah SAW adalah keturunan dari Nabi Ibrahim AS. Salah satu doa Nabi ibrahim seperti tercantum dalam AI-Qur 'an:
    رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

    "Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang mendirikan shalat,begitu anak -anak turunku. Ya Tuhan kami, dan perkenankanlah do'a ku."(QS:I brahim:40).

    Tentu do'a Nabi Ibrahim ini tidak akan sia-sia. Ayat ini menjadi jaminan bahwa seluruh keturunan Nabi lbrahim adalah orang-orang yang tidak menyembah selain kepada Allah SWT. Adapun firman Allah SWT :
    وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

    "Dan lngatlah ketika Ibrahim berkata kepada"bapaknya" Azar, adakah engkau ambil berhala menjadi Tuhan. Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaum engkau dalam kesesatan yang nyata".(QS:AI-An' am:74)

    Menurut riwayat Abi Hatim dari lbnu Abbas, yang dimaksud dengan Azar, bapak Ibrahim AS, adalah pamannya dan bukan bapak kandungnya. Ada pun nama bapak kandung Ibrahim AS adalah Tarikh bin Syarikh bin Nakhurin. Di kalangan kaum Arab, penggunaan kata-kata "bapak" untuk sebutan paman adalah hal yang sudah lumrah, biasa dan digunakan sehari-hari.

  3. Mu'jizat Nabi SAW - Pendapat ini dinyatakan oleh beberapa ulama, di antaranya ahli Tafsir yang sangat terkenal yaitu Imam Fahruddin AI-Rozi.Ada banyak riwayat yang menyatakan bahwa dengan mu'jizatnya dan atas seizin Allah SWT, Rasulullah SAW menghidupkan kembali kedua orang tuanya, kemudian mengucapkan kalimat syahadat dan beriman. Mu' jizat Nabi dengan menghidupkan orang yang sudah meninggal bukan hal yang mustahil. Kejadian serupa pernah dilakukan oleh Nabi lsa as.


Dalil Bantahan Orang Tua Nabi Masuk Neraka

Pendapat yang terakhir ini dinyatakan oleh beberapa ulama ahli Hadits, di antaranya ulama ahli Hadits yang sangat terkenal dan bergelar Al-Hafidz, yaitu Al-Hafidz Abu Bakar Al-Khotib Al-Baghdadi. Juga Imam Al-Suhaili, AI-Qurthubi, Muhibbu at-Thobari, Nashiruddin ibnu Al-Munir, dan lain-lain.

Yang dimaksud dengan gelar AI-Hafidz dalam istilah ilmu Hadits adalah orang yang memiliki banyak hafalan matan Hadits. Menurut sebagian pendapat, orang yang bergelar ai-Hafidz harus memiliki hafalan minimal 100.000 matan hadits dengan sanad yang bersambung kepada Rasululah SAW

Adapun tentang hadits bahwa seorang laki-laki A'robi (Arab pedalaman) bertanya kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, dimanakah bapakku?" Rasulullah SAW menjawab, "Di neraka." Kemudian setelah laki-laki itu berpaling Rasulullah SAW memanggilnya dan berkata,"Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di neraka." (HR. Muslim). Dapat dijelaskan sebagai berikut:

Menurut Imam AI-Hafidz AI­ Suyuthi, kalimat "Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di Neraka," tidak disepakati oleh beberapa perawi hadits dan hanya diriwayatkan oleh Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas. Inilah jalur yang dipakai oleh Imam Muslim.

Riwayat ini bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ma'mar dari Tsabit dari Anas dengan perawi yang shahih. Dalam riwayat ini tidak terdapat kalimat "Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di Neraka."

Redaksinya adalah: Berkata A'robi, "Ya Rasulullah, dimanakah bapakku?" Rasulullah SAW menjawab: "Berada di neraka." Berkata A'robi, "Dimanakah bapakmu?" Rasulullah SAW berkata, "Apabila engkau melewati kuburan orang kafir, maka berilah ia kabar gembira (maksudnya kabar duka) dengan siksa neraka".

Dalam hadits riwayat Ma'mar ini sama sekali tidak dimuat informasi mengenai keberadaan orang tua Rasulullah SAW. Menurut penilaian ulama ahli Hadits, riwayat ini lebih kuat daripada riwayat hadits pertama yang memuat informasi mengenai keberadaan orang tua Rasulullah SAW yang berada di neraka seperti dalam pertanyaan si A'robi.

Ini disebabkan status Ma'mar, perawi hadits kedua, lebih dapat dipercaya (tsiqoh) daripada Hammad, perawi hadits yang pertama karena pada riwayat hadits yang lain banyak yang diinkari oleh para ahli hadits. Menurut para ulama ahli hadits, anak tiri Hammad memalsukan beberapa hadits pada kitab kumpulan hadits Hammad. Oleh sebab itulah maka Imam Bukhori tidak mengambil satu pun riwayat hadits dari Hammad.

Dengan demikian, sebagai pegangan paling tepat adalah hadits yang bersumber dari riwayat Ma'mar, bukan riwayat Hammad. Disamping itu, jawaban Rasulullah SAW pada riwayat Ma'mar lebih tepat. Pertanyaan itu keluar dari seorang A'robi, yang dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah dan kemurtadan sebab menurut riwayat Al-Baihaqi, pada saat itu A'robi masih belum masuk Islam, wajar jika Rasulullah SAW khawatir apabila jawaban itu disampaikan dengan keadaan yang sebenarnya bahwa orang tua Rasulullah SAW tidak berada di neraka, sedangkan orang tua si A'robi masuk neraka, ini tentu akan membuatnya sangat kecewa. Mengapa nasib orang tuanya tidak sama dengan orang tua Rasulullah SAW. Ini akan sangat memungkinkan murtadnya si A'robi atau keengganannya memeluk agama Islam. Orang-orang A'robi dikenal berwatak keras dan tidak suka mengalah terhadap orang lain.

Demikian jawaban singkat ini,semoga dapat menjadikan iman dan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW dan keturunannya bertambah besar. Berikut pula silahkan disimak cuplikan penjelasan dari Al Habib Umar Hafidz, silahkah di share - Dalil Bantahan Orang Tua Nabi Masuk Neraka



(Lihat. Ghomzu 'Uyuni ai-Bashoir, juz 3, him. 241 , Masaliku ai-Hunafa fi Walday ai-Mushthofa, him. 12, 18, 27,42, 43, 51, 52, 53, 60, 63. AI-Ta'dhim wa al-Minnah, him. 40, 43, 54. AI-Durj AI-Munifah fi ai-Aba' ai-Syarifah, hlm.18).

Sumber: CN Istifta’

Wednesday, August 30, 2017

Pengertian Siapa dan Apa Itu Ahlussunnah Wal Jamaah

Pengertian Siapa dan Apa Itu Ahlussunnah Wal Jamaah

pengertian-siapa-apa-itu-ahlussunnah-wal-jamaah
Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah

Pengertian Ahlussunnah Wal Jamaah

Muktamar Internasional Ulama Islam di Chechnya pada 25 Agustus 2016 lalu seolah memberikan pencerahan baru bagi umat Islam. Betapa tidak, di tempat ini para tokoh ulama kaliber dunia berkumpul dan menegaskan kembali definisi Ahlussunnah WalJamaah / Aswaja yang belakangan dirancukan oleh sempalan-sempalan sesat dalam Islam. Muktamar yang difasilitasi presiden Ramzan Akhmadovich Kadyrov itu dihadiri Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Muhammad at-Thaib, Habib Umar bin Hafiz, Habib Ali al-Jufri, para mufti dan lebih dari 200 ulama dari seluruh dunia. Para alim ulama yang muktabar itu dengan mantap menandaskan bahwa pengertian Ahlussunnah wal Jamaah adalah kaum muslimin yang dalam tauhid berpegang pada ajaran akidah Imam Abu Hasan Ali al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur Muhammad al-Maturidiy al-Hanafi.

Ciri-ciri golongan ahlussunnah wal jamaah

Dalam masalah Fiqih, mereka mengikuti mazhab Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hambali. Di samping itu, mereka mengikuti jalan Tasawuf murni sesuai manhaj Imam Juneid dan para ulama yang meniti jalannya. Manhaj Ahlussunnah Wal Jamaah adalah ajaran Islam yang paling akurat, detail dan komprehensif. Manhaj ini menaruh perhatian besar dalam memilih referensi-referensi ilmiah dan metodologi pendidikan dalam memahami syariat Islam yang diwariskan Baginda Nabi SAW.

Sepanjang sejarah, para ulama Ahlussunnah Wal Jamaah senantiasa mengamati berbagai pemikiran yang menyimpang dan memantau konsep berbagai kelompok. Kemudian mereka menimbang semua itu dengan parameter ilmu dan memberikan kritik mereka secara ilmiah.

Siapakah sebenarnya Ahlussunnah wal Jamaah itu? Apakah Wahabi/Salafi Ahlussunnah Wal Jamaah

Dengan garis-garis haluan Ahlussunnah Wal Jamaah yang disepakati bersama, maka secara resmi Muktamar ulama di Chechnya mengucilkan kelompok Wahabi yang berpaham Khawarij dari Ahlussunnah Wal Jamaah.

Dikucilkannya Wahabi dari Ahlussunnah Wal Jamaah ini lebih disebabkan lantaran mereka memegang akidah yang menyalahi rumusan Imam al-Asy'ari dan Imam al-Maturidi. Padahal rumusan aqidah kedua imam ini merupakan ajaran yang disepakati mayoritas ulama dari masa ke masa.

Dalam sebuah syairnya, Imam Abdullah bin Alwi al­ Haddad berkata, "Jadikanlah Asy'ariyah sebagai i'tiqadmu, sesungguhnya i'tiqad itu suci dari penyimpangan dan kekufuran." Pada suatu hari Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad pernah ditanya, "Apakah mazhab Asy'ari adalah satu-satunya mazhab yang benar ?" Beliau menjawab,"Tidak, tetapi semua yang ada dalam mazhab Asy'ari adalah haq, sedangkan dalam mazhab -mazhab selain itu ada yang haq dan ada pula yang batil."

Oleh sebab itu, dalam kitab Risalatul Muawanah beliau menulis, "Bahwa kebenaran ada bersama kelompok yang diberi nama Asy'ariyah, yakni mereka yang dinisbahkan kepada Syaikh Abul Hasan al-Asy'ari. Beliau telah menyusun secara sistematis kaidah-kaidah tentang akidah ahlul haq serta mencatat dalil­ dalilnya, yakni aqidah seperti yang telah disepakati oleh para sahabat dan tabiin serta akidah ahlul haq di setiap tempat dan zaman. Juga akidah sebagian besar ahli Tasawuf seperti diungkapkan oleh Abu al­ Qasim al-Qusyairi pada awal risalah yang disusunnya. Itulah pula akidah kami serta sekelompok kami dari kalangan ahlul bait yang dikenal sebagai Husainiyyin (yakni keturunan Husain bin Ali, cucu Rasulullah SAW) atau yang juga dikenal dengan sebutan Alawiyyin.

Aliran Wahabi dan Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah

"Makna" Singgasana QS Thaha : 5

Ada banyak contoh penyimpangan yang menyebabkan Wahabi dikucilkan dari Ahlussunnah Wal Jamaah. Penyimpangan fatal kelompok adalah menyerupakan Allah SWT makhluk yang diistilahkan dengan Faham sesat mereka ini terkristal pada tafsir mereka mereka terhadap firman Allah berbunyi :

الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
"(yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas 'Arsy. (QS Thaha : 5)"

Mereka menafsirkan bahwa Allah bersemayam di atas 'Arsy atau singgasana. Dengan penafsiran ini mereka meyakini bahwa Allah SWT berada di suatu tempat (singgasana) sehingga menyerupakan Allah SWT dengan makhluk.

Keyakinan semacam ini tentu batil karena melanggar rambu-rambu akidah yang ditetapkan para ulama salaf. Salah satu rambu akidah itu adalah larangan menyerupakan Allah SWT dengan makhluk.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ
"Tidak ada satupun yang menyerupai-Nya." (QS As Syuro: 11).

Firman pada surat Thaha ayat 5 itu sama sekali tidak boleh ditafsirkan bawa Allah SWT duduk (jalasa) atau bersemayam atau berada di atas 'Arsy. Meski kelompok Wahabi beralasan bahwa duduk Allah SWT bukan seperti duduk kita atau bersemayam tidak seperti bersemayamnya kita, alasan ini tetap tidak bisa diterima karena duduk dan bersemayam termasuk sifat khusus benda.

Ini seperti yang dikatakan oleh al-Hafizh al-Baihaqi, Imam Taqiyyuddin as-Subuki dan al-Hafizh Ibnu Hajar dan lainnya.

Dalam Bahasa Arab, kata istawa punya 15 makna. Karena itu kata istawa harus ditafsirkan dengan makna yang layak bagi Allah SWT dan selaras dengan ayat-ayat Muhkamat. Berdasarkan hal ini tidak boleh menerjemahkan kata istawa ke dalam Bahasa Indonesia atau bahasa lainnya karena tidak ada sinonim yang mewakili 15 makna itu. Yang dibolehkan adalah menerjemahkan maknanya, dan makna istawa dalam ayat tersebut adalah qahara (menundukkan atau menguasai).

Imam Ali binAbi Thalib pernah berkata, "Sesungguhnya Allah SWT menciptakan Arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya, bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya." Oleh karenanya, ayat tersebut (surat Thaha: 5) hanya boleh ditafsirkan dengan makna qahara (menundukkan dan menguasai) sehingga bermakna bahwa Allah SWT menguasai 'Arsy seperti Dia menguasai semua makhluk-Nya. Sungguh adalah suatu kekeliruan yang parah bila meyakini bahwa Allah SWT bersemayam di,singgasana di atas langit.

Al-Imam ath-Thahawi berkata : "Barangsiapa mensifati Allah dengan salah satu sifat manusia, maka ia telah kafir". Sifat-sifat manusia banyak sekali. Sifat yang paling nyata adalah baru, yakni ada setelah sebelumnya tidak ada. Di antara sifat manusia adalah mati, berubah, berpindah dari satu keadaan ke keadaan yang lain, bergerak, diam, infi'al (merespon penstiwa dengan kegembiraan atau kesedihan atau semacamnya yang tampak dalam raut muka dan gerakan anggota tubuh), turun dari atas ke bawah, naik dari bawah ke atas, berpindah, memiliki warna, bentuk, panjang, pendek, bertempat pada suatu arah dan tempat, membutuhkan, memperoleh pengetahuan yang baru, terkena lupa, bodoh, duduk, bersemayam, berada di atas sesuatu dengan jarak, berjarak, menempel, berpisah dan lain­ lain.

Al-Imam Ahmad ar-Rifa'i (W 578 H) dalam al-Burhan al-Mu-ayyad berkata:"Hindarkanlah akidah kamu sekalian dari berpegang kepada dhahir ayat Al-Quran dan hadits yang mutasyabihat, sebab hal demikian merupakan salah satu pangkal kekufuran.

Yang beliau maksudkan, orang yang mengambil makna dhahir sebagian ayat Al-Quran dan hadits Nabi kemudian membuat perkiraan bahwa Allah SWT adalah benda yang bersemayam di atas 'arsy, atau bahwa Allah berada di arah bumi, atau bahwa Allah mempunyai anggota badan, bergerak dan yang semacamnya, maka orang tadi telah kafir. Imam ar-Rifa'I adalah seorang ulama besar yang hidup pada abad keenam Hijriyyah.

Beliau adalah seorang ahli Hadits, ahli Tafsir, pengikut al-Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dalam rumusan akidah dan pengikut mazhab Syafii dalam Fiqih. Beliau adalah orang paling mulia dan paling alim di masanya. Beliau sangat menekankan tanzih (mensucikan Allah SWT dari menyerupai makhluk). Di antara perkataan beliau dalam masalah tanzih adalah perkataan yang beliau sebutkan dalam kitab al-Burhan al-Muayyad.

Pembagian Tauhid Wahabi

Penyimpangan kelompok Wahabi yang lain adalah membagi tauhid menjadi tiga bagian:
  1. Tauhid Uluhiyyah
  2. Tauhid Rububiyyah
  3. Tauhid Al-Asma Wa ash-Shifat.
Pembagian tauhid seperti ini sama sekali tidak berdasar, baik dari Al-Quran, Hadits, atau dari seorang ulama salaf mana pun. Sungguh mengherankan, mereka mengaku muncul untuk memberangus bid'ah, namun sebenarnya mereka sendiri mempelopori bid'ah yang sesat.

Betapa tidak? Baginda Rasulullah SAW sendiri bersabda,"Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan (Ilah) yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah. Jika mereka lakukan itu maka terpelihara dariku darah-darah mereka dan harta-harta mereka kecuali karena hak." (HR al­Bukhari).

Dalam hadits ini Baginda Rasulullah tidak membagi tauhid menjadi tiga bagian. Beliau menegaskan bahwa dengan mengucapkan "La Ilaha Illallah" dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, maka seseorang telah masuk Islam. Beliau tidak mengatakan bahwa seseorang harus mengucapkan "La Rabba Illallah" setelah melafalkan "La Ilaha Illallah".

Hadits ini merupakan hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh sejumlah sahabat, termasuk di antaranya adalah sepuluh sahabat yang telah mendapat kabar gembira masuk surga. Imam al-Bukhari juga meriwayatkan hadits ini di dalam kitab Shahih-nya.

Tujuan Pembagian Tauhid Wahabi

Tujuan Wahabi membagi tauhid menjadi tiga bagian adalah untuk mengkafirkan orang-orang Islam yang melakukan Tawassul (Baca: Arti Tawasul) dengan Nabi uhammad SAW, para wali dan orang­ orang saleh. Mereka mengklaim bahwa orang yang melakukan tawassul berarti tdak mentauhidkan Allah SWT dari segi tauhid Uluhiyyah.

Demikian pula ketika mereka membagi tauhid kepada tauhid al-Asma Wa ash­ Shifat. Tujuan mereka tidak lain hanyalah untuk mengkafirkan orang-orang yang melakukan takwil terhadap ayat-ayat Mutasyabihat. Mereka sa ngat kaku dan keras dalam memega ng teguh makna dhahir dari teks­ teks Mutasyabihat. Mereka mengatakan, "al-Mu'aw-wil Mu'ath-thil," yang berarti bahwa orang yang melakukan takwil adalah sama saja dengan mengingkari sifat-sifat Allah.

Dikucilkannya Wahabi dari golongan Ahlussunnah Wal Jamaah adalah karena ulah mereka yang semaunya sendiri dalam menafsirkan teks-teks Al-Quran dan Hadits. Mereka enggan mengikuti tafsir yang dikemukakan jumhur ulama sehingga mereka terperosok ke dalam jurang tasybih dan tajsim. Tasybih adalah menyerupakan Allah SWT dengan makhluk, sementara Tajsim adalah menganggap Allah SWT memiliki fisik atau jasmani.

Sesungguhnya dua keyakinan semacam ini mendekatkan mereka kepada kekufuran.Seharusnya mereka tidak perlu kebakaran jenggot lantaran harus dikucilkan dari golongan Ahlussunnah Wal Jamaah. Mereka cuma perlu introspeksi diri dan mengakui kekhilafan mereka yang menyalahi pendapat-pendapat mayoritas ulama.

Mereka akan diakui sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah apabila bersedia menerima intisari tauhid yang diajarkan Imam Abul Hasan Ali al-Asy'a ri dan Imam Abu Mansur Muhammad al-Maturidiy dan mau meninggalkan faham tasybih dan tajsim mereka. Bila mereka mau melakukan ini, insya Allah Ahlussunnah Wal Jamaah akan menerima mereka dengan tangan terbuka. - Pengertian Siapa dan Apa Itu Ahlussunnah Wal Jamaah.

Sumber : CN.153

Saturday, August 19, 2017

Merdunya Lantunan Syair Shalawat Anak-anak Dari Afrika

Merdunya Lantunan Syair Shalawat Anak-anak Dari Afrika

Memang telah diakui bahwa Afrika banyak melahirkan bakat-bakat vokal yang bersuara emas. Mickel Jackson misalnya bahkan dijuluki King Of The POP. Di jaman Nabi SAW ada Sayyidina Bilal bin Rabbah. Allah SWT. telah menganugerahi mereka kelebihan yaitu suara nan merdu.

Berikut ini adalah video dimana sejumlah anak-anak afrika yang melantunkan shalawat nabi di sebuah masjid suatu majelis nampak begitu semangat dan kompak dengan gerakan tubuh yang tanpa disadari ikut mengiringi irama. Silahkan tonton videonya..



Subhanallah..Hadza min fadhli Rabby..

Saturday, July 15, 2017

Peristiwa Kelahiran Baginda Yang Mulia Nabi Muhammad SAW Yang Agung

Peristiwa Kelahiran Baginda Yang Mulia Nabi Muhammad SAW Yang Agung

Peristiwa Kelahiran Baginda Yang Mulia Nabi Muhammad SAW Yang Agung
Maulid Nabi Muhammad SAW
Diriwayatkan dari Imam Shihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami asy-Syafi’i di dalam kitabnya “An-ni’matul Kubraa’alal Aalam” di halaman 61. Telah disebutkan bahwa sesungguhnya pada bulan ke sembilan kehamilan Sayyidah Aminah (Rabiul Awwal) saat hari-hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW sudah semakin mendekati, Allah SWT semakin melimpahkan bermacam anugerah-Nya kepada Sayyidah Aminah mulai tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Rabiul Awwal malam kelahiran al-Musthofa Muhammad SAW.

Pada Malam Pertama : Allah SWT melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa sehingga beliau (ibunda Nabi Muhammad SAW), Sayyidah Aminah merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Pada malam Kedua : Datang seruan berita gembira kepada ibunda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan dirinya akan mendapati anugerah yang luar biasa dari Allah SWT.

Pada malam Ketiga : Datang seruan memanggil

“Wahai Aminah… sudah dekat saat engkau melahirkan Nabi yang agung dan mulia, Muhammad Rasulullah SAW yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah SWT.”

Pada malam Keempat : Sayyidah Aminah mendengar seruan beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan jelas.

Pada malam Kelima : Sayyidah Aminah bermimpi dengan Nabi Allah Ibrahim AS.

Pada malam Keenam : Sayyidah Aminah melihat cahaya Nabi Muhammad SAW memenuhi alam semesta.

Pada malam Ketujuh : Sayyidah Aminah melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira sehingga kebahagiaan dan kedamaian semakin memuncak.

Pada malam Kedelapan : Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut terdengar dengan jelas mengumandangkan

“Bahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat kelahiran Nabi agung, Kekasih Allah SWT Pencipta Alam Semesta.” 

Pada malam Kesembilan : Allah SWT semakin mencurahkan rahmat belas kasih sayang kepada Sayyidah Aminah sehingga tidak ada sedikitpun rasa sedih, susah, sakit, dalam jiwa Sayyidah Aminah.

Pada malam Kesepuluh : Sayyidah Aminah melihat tanah Tho’if dan Mina ikut bergembira menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.

Pada malam Kesebelas : Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Sayyidina Muhammad SAW. Malam detik-detik kelahiran Rasulullah, tepat tanggal 12 Rabiul Awwal jam 2 pagi. Di malam ke 12 ini langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun.

Saat itu Sayyid Abdul Mutholib (kakek Nabi Muhammad SAW) sedang bermunajat kepada Allah SWT di sekitar Ka’bah. Sayyidah Aminah sendiri di rumah tanpa ada seorangpun yang menemaninya.Tiba-tiba beliau, Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah dan perlahan-lahan muncul 4 wanita yang sangat anggun, cantik, dan jelita diliputi dengan cahaya yang memancar berkemilau serta semerbak harum memenuhi seluruh ruangan.

Wanita pertama datang berkata :

”Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah, sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi yang agung, junjungan semesta alam. Beliaulah Nabi Muhammad SAW. Kenalilah aku, bahwa aku adalah istri Nabi Allah Adam AS, ibunda seluruh umat manusia, aku diperintahakan Allah untuk menemanimu.” 

Kemudian datanglah wanita kedua yang menyampaiakan kabar gembira : 
“Aku adalah istri Nabi Allah Ibrahim AS diperintahkan Allah SWT untuk menemanimu.” 

Begitu pula menghampiri wanita yang ketiga :
”Aku adalah Asiyah binti Muzahim, diperintahkan Allah untuk menemanimu.” 

Datanglah wanita ke empat :
”Aku adalah Maryam, ibunda Isa AS menyambut kehadiran putramu Muhammad Rasulullah.” 

Sehingga semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan ibunda Nabi Muhammad SAW yang tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Keajaiban berikutnya Sayyidah Aminah melihat sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya berdatangan silih berganti memasuki ruangan Sayyidah Aminah dan mereka memanjatkan puji- pujian kepada Allah SWT dengan berbagai macam bahasa yang berbeda.

Detik berikutnya Sayyidah Aminah melihat atap rumahnya terbuka dan terlihat oleh beliau bermacam-macam bintang di angkasa yang sangat indah berkilau saling beterbangan.

Detik berikutnya Allah memerintahkan kepada Malaikat Ridwan agar mengomandokan seluruh bidadari syurga agar berdandan cantik dan rapi, memakai segala macam bentuk perhiasan kain sutera dengan bermahkota emas, intan permata yang bergemerlapan, dan menebarkan wangi-wangian syurga yang harum semerbak ke segala arah lalu trilyunan bidadari itu dibawa ke alam dunia oleh Malaikat Ridwan, terlihat wajah bidadari itu gembira.

Lalu Allah SWT memanggil :

“Yaa Jibril… serukanlah kepada seluruh arwah para nabi, para rasul, para wali agar berkumpul, berbaris rapi, bahwa sesungguhnya kekasihKu cahaya di atas cahaya, agar disambut dengan baik dan suruhlah mereka menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW.

Yaa Jibril… perintahkanlah kepada Malaikat Malik agar menutup pintu-pintu neraka dan perintahakan kepada Malaikat Ridwan untuk membuka pintu-pintu syurga dan bersoleklah engkau dengan sebaik-baiknya keindahan demi menyambut kekasihKu Nabi Muhammad SAW.

Yaa Jibril… bawalah trilyunan malaikat yang ada di langit, turunlah ke bumi, ketahuilah kekasihKu Muhammad SAW telah siap untuk dilahirkan dan sekarang tiba saatnya Nabi Akhiruzzaman.”

Dan turunlah semua malaikat, maka penuhlah isi bumi ini dengan trilyunan malaikat. Lalu ibunda Rasulullah SAW di bumi, beliau melihat malaikat itupun berdatangan membawa kayu-kayu gahru yang wangi dan memenuhi seluruh jagat raya.

Pada saat itu pula mereka semua berdzikir, bertasbih, bertahmid, dan pada saat itu pula datanglah burung putih berkilau cahaya mendekati Sayyidah Aminah dan mengusapkan sayapnya pada Sayyidah Aminah, maka pada saat itu pula lahirlah Muhammad Rasulullah SAW dan tidaklah Sayyidah Aminah melihat kecuali cahaya, tak lama kemudian terlihatlah jari-jari Nabi Muhammad SAW bersujud kepada Allah seraya mengucapkan,

“Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Walhamdulillahi katsiro, wasubhanallahibukrotan wa asiilaa.”

Semakin memuncaklah kegembiraan seluruh alam dunia dan semesta dan terucaplah :

“Yaa Nabi Salam Alaika…
“Yaa Rasul Salam Alaika…
“Yaa Habib Salam Alaika…
“Sholawatullah Alaika.. ”

Matanya bagaikan telah dipakaikan sifat mata, senyum indah terpancar dari wajahnya dan hancurlah berhala-berhala dan bergembiralah semua alam semesta menyambut kelahiran Nabi yang mulia…Wallahu ‘alam bish showab, wal ‘afu minkum.

Oleh : @Ali Abdurrahman Al-Habsyi (FB)-Sumber : Aulia Rahman FB
Kisah Rasulullah SAW Mengangkat Anak Seorang Gadis Kecil Yatim

Kisah Rasulullah SAW Mengangkat Anak Seorang Gadis Kecil Yatim

Kisah Rasulullah SAW Mengangkat Anak Seorang Gadis Kecil Yatim
Ilustrasi Seorang Gadis Kecil Yatim
Kisah ini terjadi di Madinah, pada suatu pagi Hari Raya 'Idul Fitri. Rasulullah SAW, seperti biasa tiap hari lebaran, mengunjungi rumah demi rumah untuk mendo’akan kaum Muslimin agar merasa gembira dan bahagia pada hari raya itu. Semua terlihat merasa gembira dan bahagia, terutama anak-anak. Mereka bermain sambil berlari-lari ke sana ke mari dengan mengenakan pakaian yang bagus serta mainan-mainan ditanganya.

Namun, tiba-tiba Rasulullah Saw melihat di sebuah sudut jalan ada seorang gadis kecil sedang duduk bersedih sambil menangis . Ia memakai pakaian yang sangat lusuh serta rambut yang acak-acakan dan sepatu yang telah usang.

Rasulullah pun bergegas menghampirinya. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menangis tersedu-sedu.Rasul kemudian meletakkan tangannya dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis kecil tersebut, lalu bertanya dengan suaranya yang lembut :

“Anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?”

Gadis kecil itu terkejut. Tanpa berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil bercerita:

“Pada hari raya yang suci ini, semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah SAW. Ia berjuang bersama Rasulullah dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?”

Setelah Rasulullah mendengar cerita itu, seketika hati beliau diliputi kesedihan yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang beliau membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata :

“Anakku, hapuslah air matamu… Angkatlah kepalamu, dan dengarkanlah apa yang akan kukatakan kepadamu….Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu….Dan Aisyah menjadi ibumu….Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?”

Begitu mendengar kata-kata tersebut, gadis kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya...Masya Allah! Benar, ia adalah Rasulullah SAW, orang yang menjadi tempat untuk mencurahkan kesedihannya dan menumpahkan segala gundah di hatinya.

Gadis yatim kecil itu sangat tertarik pada tawaran Rasulullah, namun entah mengapa ia tidak bisa berkata sepatah kata pun. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuannya. Gadis yatim kecil itu lalu bergandengan tangan dengan Rasulullah SAW menuju ke rumah. Hatinya begitu diliputi kebahagiaan yang sulit untuk dilukiskan, karena ia diperbolehkan menggenggam tangan Rasulullah yang lembut itu.

Subhanallah..!Sesampainya di rumah Rasulullah, wajah dan kedua tangan gadis kecil itu lalu dibersihkan oleh beliau, dan rambutnya disisir oleh Sayyidatuna Aisyah. Semua memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.Gadis kecil itu lalu dipakaikan gaun yang indah oleh Sayyidatuna Fatimah Az-Zahro, dan diberikan makanan, juga uang saku untuk hari raya. Lalu ia pun diantar keluar, agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya.

Anak-anak lain merasa iri pada gadis kecil dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri itu. Mereka merasa keheranan, lalu bertanya :

“Gadis kecil, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu terlihat sangat gembira?”

Sambil menunjukkan gaun baru dan uang sakunya, gadis kecil itu menjawab :

“Akhirnya aku memiliki seorang ayah!!!. Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya!!. Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang ayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, yang hatinya begitu mulia, ia yang menyisir rambutku. Juga seorang kakak perempuan, namanya Fatimah, ia yang mengenakanku gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia, dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya.”

Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang memakaikan seorang anak pakaian yang indah dan mendandaninya pada hari raya, maka Allah SWT akan mendandani/menghiasinya kelak pada hari Kiamat.Allah SWT mencintai terutama setiap rumah, yang di dalamnya memelihara anak yatim dan banyak membagi-bagikan hadiah. Barangsiapa yang memelihara anak yatim dan melindunginya, maka ia akan bersamaku di dalam Syurga.“

Sumber : FB Aulia Rahman